Spooky Short Story - Tidak Sendirian
Tidak Sendirian
Sendirian dirumah tanpa seorangpun adalah hal yang sangat membosankan bagiku.
Apa lagi jika rumah kita sedang mati lampu. Tak bisa menonton televisi, tak bisa bermain komputer.
Apa lagi jika rumah kita sedang mati lampu. Tak bisa menonton televisi, tak bisa bermain komputer.
Ah pasti akan sangat membosankan.
Dan sialnya hari ini lampu dirumahku padam.
Ckh! Aku janji suatu hari aku akan memecat semua pekerja di perusahaan PLN itu.
Ckh! Aku janji suatu hari aku akan memecat semua pekerja di perusahaan PLN itu.
Aku mengambil handphone-ku saat benda itu berdering.
Ternyata ibu menelepon.
Katanya ia akan pulang larut hari ini.
Dan oh ia bilang kepadaku untuk jangan keluar rumah.
Hmm... tolong katakan ini hanya mimpi.
Ternyata ibu menelepon.
Katanya ia akan pulang larut hari ini.
Dan oh ia bilang kepadaku untuk jangan keluar rumah.
Hmm... tolong katakan ini hanya mimpi.
Aku melempar handphone-ku asal ke sofa hitam di kamarku dan membanting diri disela-sela empuknya tubuh kasur.
Aku bangkit dari tidurku saat aku mendengar sebuah suara diluar kamar. Aku membuka pintu kamar. Gelap. Aku pun mengambil lilin yang sedadi tadi menyala diatas nakas lalu membawanya keluar tuk menjadikannya cahaya dalam kegelapan ini.
Aku berjalan. Mencari asal suara aneh yang kudengar tadi. Aku berhenti pada sebuah pintu besar. Ruang baca, batinku. Aku pun segera membuka pintu besar itu dan terpampanglah ruangan besar yang kini didominasi kegelapan walau tampak beberapa lilin memerangi beberapa sudut ruangan. Aku bingung, kapan aku menaruh lilin disana. Perasaan aku hanya menaruh lilin dikamar dan diruang tamu saja, selebihnya tidak.
Apa, jangan-jangan... .
Tubuhku meremang.
Ehm sudahlah tidak usah dipikirkan lagi. Aku membuang jauh-jauh pikiran itu, siapa tau saja aku lupa jikalau aku pernah menaruh lilin di sini.
Apa, jangan-jangan... .
Tubuhku meremang.
Ehm sudahlah tidak usah dipikirkan lagi. Aku membuang jauh-jauh pikiran itu, siapa tau saja aku lupa jikalau aku pernah menaruh lilin di sini.
Aku pun segera melangkahkan kakiku masuk.
Entah kenapa suasana hatiku terasa tak enak. Dan entah bagaimana pula suasana di ruang baca ini menjadi dingin.
Tiba-tiba wewangian yang paling kubenci masuk ke indra penciumanku. Wangi bunga sedap malam.
Ya, aku mencium wangi bunga sedap malam disini. Bukan hanya itu, aku juga mencium bau tanah.
Entah kenapa suasana hatiku terasa tak enak. Dan entah bagaimana pula suasana di ruang baca ini menjadi dingin.
Tiba-tiba wewangian yang paling kubenci masuk ke indra penciumanku. Wangi bunga sedap malam.
Ya, aku mencium wangi bunga sedap malam disini. Bukan hanya itu, aku juga mencium bau tanah.
Tubuhku menegang saat hawa dingin tiba-tiba menyentuh leher belakangku. Tak kalah wangi bunga sedap malam juga tanah sangat menusuk indra penciumanku.
Dan itu semua berasal dari belakangku. Ini tak beres.
Dan itu semua berasal dari belakangku. Ini tak beres.
Perlahan aku menolehkan kepalaku ke belakang dan.. tak ada apa-apa. Aku menautkan alisku. Wewangian itu tidak lagi berasal dari arah belakang, tapi dari arah samping kananku. Dan saat aku tolehkan kepalaku, sesosok makhluk yang terbalut kain kafan itu berdiri disampingku dengan mata yang benar-benar melotot ke arahku.
"Astaga!!!" Pekikku. Aku pun langsung lari secepatnya meninggalkan pocong itu di ruang baca.
Aku berlari dan terus berlari. Merasa telah lama berlari aku melambatkan lariku, walau wewangian itu masih saja memenuhi hidungku. Perlahan kutoleh kebelakang.
Aku melototkan mata, dan menambah kecepatan lariku.
Pocong itu mengejarku!
Aku berlari dan terus berlari. Merasa telah lama berlari aku melambatkan lariku, walau wewangian itu masih saja memenuhi hidungku. Perlahan kutoleh kebelakang.
Aku melototkan mata, dan menambah kecepatan lariku.
Pocong itu mengejarku!
Aku pun langsung melarikan diri dari rumah tanpa mengunci rumah kembali ataupun memakai alas kaki. Persetan dengan rumah! Terpenting aku terhindar dari pocong itu.
Aku juga tak lagi menoleh kebelakang walaupun wewangian itu telah sirna dari indra penciumanku.
Aku juga tak lagi menoleh kebelakang walaupun wewangian itu telah sirna dari indra penciumanku.
Tak lama aku melihat sebuah rumah. Tanpa pikir panjang aku langsung pergi ke rumah itu dan segera mengetuk pintu.
Tak lama seorang wanita paruh baya membuka pintu.
Terlihat air mukanya yang awalnya cemas menjadi pucat. Ia membuka mulutnya.
Tak lama seorang wanita paruh baya membuka pintu.
Terlihat air mukanya yang awalnya cemas menjadi pucat. Ia membuka mulutnya.
"Kamu... Tidak sendirian."
-Rans
Komentar
Posting Komentar